Kecenderungan individu dengan risiko tinggi untuk lebih mungkin membeli asuransi.
Adverse selection (seleksi merugikan / anti-seleksi) adalah kecenderungan individu dengan risiko lebih tinggi untuk membeli asuransi lebih banyak dibandingkan individu dengan risiko rendah, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam portofolio perusahaan asuransi.
Mekanisme:
- Orang yang TAHU dirinya berisiko tinggi → lebih aktif membeli asuransi
- Orang yang merasa sehat/aman → menunda atau tidak membeli
- Akibatnya: klaim rata-rata lebih tinggi dari yang diperhitungkan
Dampak:
- Loss ratio meningkat
- Premi harus dinaikkan
- Orang risiko rendah semakin enggan membeli (karena premi mahal)
- Spiral: hanya orang risiko tinggi yang tersisa → death spiral
Pencegahan:
- Underwriting: seleksi risiko yang ketat sebelum menerima polis
- Medical examination: pemeriksaan kesehatan untuk asuransi jiwa/kesehatan
- Waiting period: masa tunggu sebelum manfaat berlaku
- Pre-existing condition exclusion: mengecualikan kondisi yang sudah ada
- Mandatory insurance: asuransi wajib menghilangkan self-selection
- Risk-based pricing: premi sesuai profil risiko masing-masing
Teori:
Konsep adverse selection pertama kali dikemukakan oleh George Akerlof (1970) dalam paper 'The Market for Lemons' — pemenang Nobel Ekonomi 2001.
CONTOH PENGGUNAAN
Perusahaan asuransi kesehatan menjual polis tanpa medical check-up. 70% pembeli ternyata memiliki riwayat penyakit kronis. Loss ratio melonjak ke 120%. Perusahaan menaikkan premi 30% — nasabah sehat berhenti membeli. Tersisa hanya nasabah sakit — perusahaan merugi.