Strategi menghilangkan risiko sepenuhnya dengan tidak melakukan aktivitas berisiko.
Risk avoidance atau penghindaran risiko adalah strategi manajemen risiko di mana suatu organisasi memilih untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung risiko tertentu. Ini merupakan cara paling efektif untuk menghilangkan risiko, namun juga berarti melepaskan peluang bisnis yang terkait.
Dalam konteks asuransi, risk avoidance dapat dilihat dari dua sisi. Dari sisi perusahaan asuransi, ini berarti menolak untuk menanggung jenis risiko tertentu yang dianggap terlalu berbahaya atau tidak sesuai dengan risk appetite perusahaan. Dari sisi tertanggung, ini berarti menghindari aktivitas berisiko tinggi untuk mengurangi eksposur.
Risk avoidance tidak selalu menjadi pilihan terbaik karena dapat menghambat pertumbuhan bisnis. Oleh karena itu, strategi ini biasanya digunakan bersamaan dengan strategi manajemen risiko lainnya seperti risk reduction (mitigasi), risk transfer (asuransi), dan risk retention (menerima risiko).
CONTOH PENGGUNAAN
Sebuah perusahaan developer properti mempertimbangkan untuk membangun resort di daerah pesisir yang rawan tsunami. Setelah melakukan analisis risiko, biaya asuransi untuk lokasi tersebut sangat tinggi (premi 2% dari nilai proyek Rp500 miliar) dan beberapa perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan. Perusahaan memutuskan untuk menerapkan risk avoidance — membatalkan proyek di lokasi tersebut dan memilih lokasi alternatif yang lebih aman di dataran tinggi.