Asuransi parametrik yang menggunakan indeks cuaca sebagai pemicu pembayaran.
Weather index insurance adalah bentuk asuransi parametrik yang menggunakan data cuaca terukur (curah hujan, suhu, kelembaban, kecepatan angin) sebagai pemicu pembayaran klaim.
Paling banyak digunakan dalam sektor pertanian karena hasil panen sangat bergantung pada kondisi cuaca. Mekanisme kerja:
1. Penetapan indeks — Menentukan parameter cuaca dan ambang batas (misalnya curah hujan kumulatif < 150mm selama musim tanam).
2. Monitoring — Data cuaca dikumpulkan dari stasiun meteorologi resmi atau sensor otomatis.
3. Trigger — Jika indeks cuaca melewati ambang batas, pembayaran otomatis.
4. Payout — Pembayaran berjenjang berdasarkan seberapa jauh indeks menyimpang dari normal.
Tantangan utama:
- Basis risk (korelasi antara indeks cuaca dan kerugian aktual tidak sempurna)
- Ketersediaan stasiun cuaca yang representatif
- Panjang data historis untuk kalibrasi produk
Di Indonesia, weather index insurance untuk pertanian masih dalam tahap pengembangan, didukung oleh BMKG dan lembaga internasional seperti World Bank dan IFC.
CONTOH PENGGUNAAN
Program asuransi pertanian jagung di NTT menetapkan indeks curah hujan: jika total hujan selama musim tanam (November-Februari) kurang dari 200mm, petani menerima pembayaran. Curah hujan aktual tercatat 140mm (kekeringan parah). Setiap petani terdaftar otomatis menerima Rp 3 juta per hektar melalui transfer bank dalam 14 hari setelah musim tanam berakhir.